Tak Berkategori

Kontrak Pertama sebelum Wisuda

Sudah masuk akhir Maret 2016, artinya 2 bulan kontrak pertama temporary staff UMY akan berakhir atau di perpanjang.

Ada beberapa syarat untuk mengikutinya: pertama, minimal harus sudah bebas teori atau maksimal fresh graduate 1 tahun belakang. kedua, melengkapi persyaratan dan mengikuti seleksi. ketiga, menerima dan bertanggungjawab terhadap kontrak yang ditandatangani.

Berikut ini lampiran-lampiran seleksinya

  1. Pada seleksi administrasi 204 peserta lolos.

1

2. Pada tahap AIK dan kompetensi 36 peserta lolos.

2

3. Pada tahap psikotes 20 peserta lolos.

3

4. Pada tahap wawancara 14 peserta lolos dan berhasil menjadi temporary staff.

4

Alhamdulilah, dari 218 pendaftar yang diterima hanya 14 orang dan saya salah satunya. Bekerja sebelum wisuda dan berkompetisi dengan para sarjana menjadi kebanggaan tersendiri. Bukan berarti saya lebih baik dari mereka, toh mereka pun sudah lebih dahulu wisuda.

Mulai April ini kami ditawari kontrak kembali, 12 bulan ke depan. Jika dilihat dari pendapatan jauh dari yang diharapkan, tetapi jika dilihat dari konteks kedekatan dengan petinggi kampus, staf pengajar, dan staf umum dapat memberikan keuntungan lebih daripada mahasiswa biasa atau sarjana.

Tetapi nasib berkata lain, cita-cita awal saya melanjutkannya 1 tahun kedepan sekaligus mempersiapkan beasiswa magister dan seterusnya harus direlakan demi kepentingan lain. Saya harus pulang, siapa tau peruntungan di rumah sendiri lebih menjanjikan. Setelah 4 tahun merantau, saya akan kembali ke rumah. Wasalam.

Standard
Tak Berkategori

Takdir.

Orang lain bisa mengira kenapa saya kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 1) Melanjutkan studi daripada bekerja; 2) Belum berhasil masuk PTN. Mereka juga bisa mengira kenapa saya bertahan. 1) Kewajiban; 2) Pilihan; 3) Kemampuan; 4) Pengaruh lingkungan.

Sudah delapan semester saya lalui, tiap semesternya memiliki pengalamannya tersendiri. Semester 1- 2 : IPK Dengan Pujian, Aktif di organisasi kemahasiswaan, Aktifitas di luar kampus, dsb. Semester 3 -4 : IPK Dengan Pujian, Nonaktif di organisasi kemahasiswaan, dsb. Semester 5 – 6 : IPK Dengan Pujian, dsb.. Semester 7 – 8 : IPK Dengan Pujian, Bekerja, dsb.

Sudah dua tahun terakhir saya membuat rencana hidup 1 tahun kedepan. Dimulai dari tahun 2015, 80%-nya berhasil. Di tahun 2016 ini, saya membuat rencana hidup lebih rinci lagi : 1) Rencana hidup 1 tahun kedepan; 2) Rencana hidup 5 tahun kedepan.

Rencana hidup 1 tahun kedepan sudah terhitung 3 bulan. Januari berhasil diterima bekerja, Februari selesai proposal skripsi, Maret (berjalan) menyelesaikan skripsi. Masih tersisa 9 bulan kedepan.

Rencana hidup 5 tahun kedepan masih menyisakan : (2016) Wisuda dan bekerja; (2017) Beasiswa dan Menikah (?); (2018) Refleksi hidup menjelang ¼ abad usia; (2019) Wisuda S2 dan bekerja; (2020) Pergi Haji.

 

“Manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan.”

Kata Mutiara lama yang masih relevan.

 

Rencana tinggal rencana. Jika Tuhan mengatakan jadi, maka jadi-lah sesuatu itu.

Pada tanggal 6 Maret 2016 yang lalu, Ibu saya meninggal dunia (semoga Allah meridai-nya). Tidak seorangpun yang mampu mengira. Rencana-rencana yang tersusun rapi diatur kembali. Pertama, Identitas dan status saya berubah menjadi seorang “piatu”. Kedua, Saya kehilangan sosok Ibu, Ibu Rumah Tangga, dan Wiraswasta. Ketiga, Pekerjaan yang sedang saya jalani kemungkinan besar dilepaskan karena adik saya butuh bimbingan kuliah dan masa depannya (lebih utama daripada saya). Keempat, dengan demikian rencana hidup 1 tahun kedepan dan rencana hidup 5 kedepan berubah dan saya belum tahu sampai kapan dan bagaimana sebaiknya.

 

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja“.

Alquran Surat Al Ahzab ayat 16.

Tafsir :

Wahai Muhammad, katakan kepada mereka, “Kalau ajal kalian telah tiba, maka upaya kalian untuk melarikan diri dari medan pertempuran itu tidak akan berguna. Jika kalian belum ditakdirkan untuk mati saat ini, bagaimanapun juga kalian tidak akan bisa menikmati sisa hidup melebihi batas umur yang telah ditentukan. Dan sungguh umur manusia itu sangat pendek.”

http://tafsirq.com/33-al-ahzab/ayat-16#tafsir-quraish-shihab

 

Jadi, rencana hidup terdekatku sekarang adalah mempersiapkan kematian.

Standard
Tak Berkategori

LGBT dalam pena penulis

Bisa dikatakan 1 bulan belakangan ini media di Indonesia dihiasi berita asusila, amoral, dan atheist. Kenapa saya katakan begitu ? Sebab, Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) diwartakan secara luas tanpa mengenal batas tayangan dan usia.

Sejarah LGBT

Dalam agama samawi, LGBT pertama kali diidentifikasi sekitar milenium kedua sebelum masehi. Pada masa itu baru dimulai pada aktifitas seksual meliputi Lesbian dan Gay. LGBT kemudian berkembang dan diidentifikasikan kembali pasca ditemukannya reruntuhan kota Naples (Italia). Bangsa Pompey mempraktikan kehidupan seksual bebas yang meliputi LGBT, Bestialitas, paedofil, dan lain-lain. Tidak hanya di pusat peradaban Timur dan Barat, dan di Indonesia pada milenium ketiga setelah masehi sempat digegerkan akibat kasus Very Idham Heryansyah (Ryan asal Jombang, Jawa Timur).

LGBT dan Globalisasi

Propaganda yang dilakukan oleh kaum LGBT mendasarkan kegiatannya atas UDHR 1948 dan diperbaharui dengan dasar Yogyakarta Principles 2006. Selain mengatasnamakan HAM, komunitas LGBT di Indonesia juga melakukan aksinya berdasarkan pasal-pasal dalam UUD 1945 berkaitan dengan perlindungan WNI, kesetaraan dan hak WNI, kebebasan berpendapat, berserikat, dan berkumpul. Dengan dalih tersebut mereka dengan aktif dan bebas menyuarakan suaranya (Voicing the Voiceless) untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaan dan kewarganegaraannya.

Sikap Penulis terhadap LGBT

Kajian LSM dengan spesialisasi Hak Asasi Manusia, Jejaring Advokasi, Gender, dsb. memang bukan konsentrasi yang penulis tekuni. Tapi, setelah membaca kembali UUD 1945, Dasar-dasar Ilmu Politik Miriam Budiardjo, situs web Arus Pelangi, GAYa Nusantara, LGBT Indonesia, Depkes RI, artikel-artikel di surat kabar maupun media digital, dan pengalaman penulis sebagai juara ke-3 esai mengenai HAM di Indonesia, serta acara TV diantaranya debat TV One “Nikah Sejenis : Manusiawi atau Eksistensi, ILC “LGBT Marak, Apa Sikap Kita”, dan Kompas TV “LGBT Haruskah Dicemaskan ?” maka penulis mengambil sikap KONTRA terhadap eksistensi, Aktivitas, Pemberitaan dan Penyebarluasan LGBT.

Mengapa penulis bersikap terburu-buru ? Kalau ditelaah dari berbagai sumber yang penulis sebutkan, sikap yang penulis ambil adalah tepat dan tegas. Tidak cukup ruang dalam blog bebas ini untuk merincikan argumentasi penulis satu per satu, maka silahkan pembaca menelusuri sumber-sumber yang telah penulis sebutkan.

Kesimpulan

Sebagaimana pernyataan mantan Ketua MK, Mahfud MD, LGBT BERBAHAYA DAN MENJIJIKAN, maka pengakuan Hak-hak LGBT di Indonesia tidak sesuai dan bertentangan dengan konstitusi dan konvensi Indonesia dan bangsa Indonesia. Namun, keberadaan komunitas LGBT di Indonesia tidak dapat dielakkan dan perlu adanya pembinaan dan pembimbingan kepada hakikat dasar manusia seutuhnya.

 

Standard
Tak Berkategori

Kehidupan Mahasiswa Semester Akhir

Pegangan Hidup:

Kalo gue ga dapet Universitas Terbaik (semisal UI, UGM, atau UNPAD), gue harus dapet lingkungan pendidikan dengan teman-teman terbaik.

 

Hidup ga selamanya lurus, kadang berbelok-belok, naik-turun, kerikil-kerikil, sampai berhenti sejenak pasti dirasakan. 4 Tahun lalu, ketika anak-anak SMA sibuk cari kampus terbaik dengan jurusan favorit, gue sibuk cari kota dimana teman-teman terbaik di SMA kuliah. Karena gue sadar diri selama SMA semangat belajar terus menurun, meski dari kelas X sampai kelas XII selalu masuk kelas favorit.

Akhirnya gue pilih Jogja, ada 4 teman SMA yang gue kenal baik. Pertama, Yudri. Anak Pak Pol yang udah kenal sejak di kelas MOS. Kawan seperjuangan sejak di kelas IPA, nyatuin kelas, bikin turnamen futsal tiap selasa, renang tiap rabu, sparing futsal tiap Jumat, jalan-jalan tiap pulang bimbel, dan masih banyak lagi. Kedua, Elky. Pahlawan Lemah Abang, yang rumahnya sering jadi basecamp anak-anak FROST/IPA 2 sekte minoritas. Anehnya, kalo anak-anak lain terkontaminasi antara bandel dan bodoh (ga semuanya) dia masih di jalan yang lurus dan diluar prediksi masuk UGM. Ketiga, Loka. Biarpun ga akrab-akrab banget, tapi temen seperjuangan masuk SMA dari SMP. Dia juga diluar prediksi, ketua Paskib, ikut olimpiade IPS, tapi terlempar ke kampus swasta. Keempat, Nisa. Wk. II OSIS (mantannya KETOS). Memang ga akrab, tapi karakternya sudah terkenal baik se-SMA.

Selama 4 tahun kuliah di Kota Pelajar, benar terasa pegangan hidup gue ga salah. Tahun pertama gue kuliah masih jalan kaki, tapi tiap minggu Yudri – Elky rela-rela antarjemput gue ke kos buat main bareng. Bareng Loka, Nisa, sama anak-anak SMA lainnya. Baru-baru aja gue udah nyusahin kan.

Tahun kedua, yudri pindah ke Solo dan yang lain mulai sibuk kegiatan di kampus masing-masing. Tapi ya dua minggu – satu bulan sekali yudri masih main ke Jogja atau gue sama Elky yang ke Solo. 1 – 2 jam, 45 – 60 KM perjalanan bukan permasalahan. Kalo ga salah di tahun kedua juga gue kena DB, mereka yang inisiasi jenguk sama teman-teman SMAN lain. Nyusahin lagi kan.

Tahun ketiga, mulai merintis masa depan masing-masing. Elky gabung BEM sama Himpunan, sampai akhirnya rakit mobil listrik dan sekarang rintis proyek drone. Yudri gabung BEM sampai jadi Gubernurnya. Kalo Loka udah jadi ketua himpunan, sementara Nisa selain aktif di organisasi juga bentuk Pijar Psikologi yang ide dan tindakannya sudah tersiar ke dunia (cek goodnews from Indonesia). Sementara gue ? Masih luntang-lantung, kejar IPK. Sebagai pembalasan bobroknya nilai akademik di SMA.

Tahun keempat, hampir aja kuliah gue stuck. Biasa faktor ekonomi. Tapi Alhamdulillah bisa diatasi oleh keluarga dengan pengorbanan-pengorbanan tertentu. Perjuangan gue ? Gadai motor pertama gue dan satu-satunya buat biaya semester. Terus, jual kamera digital plus sepatu nike, buat bayar kos 3 bulan. Masalah pertama teratasi karena kebaikan Idul, keponakan mantan Bupati Sa’dudin, yang magang 3 bulan di Trans TV. Masalah kedua, lagi-lagi Elky sama Yudri yang jadi korban. Elky yang ambil uang hasil penjualan terus transfer ke rekening gue dan menambahkan, “Kalo perlu apa-apa ga usah sungkan beng bilang aja, lu udah gue anggap sodara sendiri sama Yudri.” Yudri juga langsung ke Jogja dari Solo. Lagi, semester ke-8 ini, puncak ketidaktahuan diri dan nyusahin gue ke orang lain. Gue pinjam uang tabungannya Yudri untuk biaya kuliah. Gue cuma inget kata-kata sakti mereka, lebih sakti daripada kartu-kartu sakti Jokowi, “Gue (Elky) sama Yudri masih punya tabungan, kalo perlu apa-apa bilang aja beng.”

Begitulah, Kalo gue ga dapet Universitas Terbaik (semisal UI, UGM, atau UNPAD), gue harus dapet lingkungan pendidikan dengan teman-teman terbaik.

Alhamdulillah sekarang gue udah diterima kerja, Februari – Maret training dan kalo berhasil diperpanjang selama satu tahun ke depan. Mungkin hal biasa bagi kalian, tapi suatu karamah bagi gue saat diujung tanduk seperti sekarang ini. Gue beruntung menyisihkan 204 sarjana dan mahasiswa tingkat akhir di kampus supaya bisa jadi temporary staff. Hampir aja kuliah berhenti dan masa depan ga tau gimana. Terimakasih kalian semua, semoga amal kebaikan kalian dibalas oleh yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Amin. Maaf selalu merepotkan. Sukses buat kita semua.

 

Standard
Tak Berkategori

Sayap Seekor Burung

Laki-laki dan Perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung

Jika dua sayap sama kuatnya maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

Sukarno, dikutip dari Baba O’Illa

Simpel saja, Islam (taat beribadah; pintar bermuamalah; cerdas beragama; hafal juz amma), prestasi akademik memuaskan (sekolah favorit; cum laude; beasiswa; polyglot; dsb), aktif dan kreatif (olahraga; kesenian; lebudayaan; polymath; dsb), menjaga diri. Itu bukan mimpi, hanya mendeskripsikan diri sendiri.

Vile women are for vile men, and vile men for vile women. Good women are for good men, and good men are for good women…” (An Nur (24) : 26)

Standard