Tak Berkategori

Ramadan Tahun Ini

Ramadan sudah berlalu, tetapi ada catatan yang perlu saya bagikan. Ramadan terdiri dari 29/30 hari. Kenapa berubah-ubah ? Karena Islam menggunakan sistem lunar dalam perhitungan kalender. Kewajiban di bulan Ramadan adalah berpuasa, dimulai sejak terbitnya hingga terbenamnya matahari. Selain itu, ada ibadah-ibadah lain yang dianjurkan didalamnya : Salat Tarawih; Taddarus Alquran; I’tikaf; dll.

Rangkaian ibadah diatas sudah menjadi keumuman bagi mayoritas umat Islam di seluruh dunia. Tetapi ada beberapa negara yang mempunyai tradisi tertentu sepanjang Ramadan, salah satunya Indonesia. Di Indonesia setiap kali Ramadan datang, umat Islam dan non Islam biasa melakukan “buka puasa bersama”. Hal ini baik mengingat Nabi Muhammad sangat menganjurkan seseorang yang “berkelebihan” berbagi rejeki kepada selainnya. Karena Islam merupakan agama “Kasih Sayang Bagi Seluruh Alam”.

Sering terjadi benturan antara ibadah dengan tradisi, ya, buka puasa bersama. Bukber yang dilakukan oleh sebagian besar orang Indonesia diluar konteks Ramadan itu sendiri, misalnya yang saya alami di Ramadan tahun ini [dan tahun-tahun sebelumnya]. Bukber yang dilakukan banyak mengurangi ketentuan-ketentuan beragama. Pertama, Bukber dilakukan oleh orang yang belum memahami agama Islam mengenai Ramadan. Kedua, Bukber seringkali melalaikan waktu salat wajib. Ketiga, Bukber malah menjadi ajang pesta-pora jauh dari pesan puasa “yaitu menahan diri”.

Lebih-lebih, bukber melewatkan waktu salat tarawih berjamaah, menghilangkan kesempatan taddarus Alquran setelahnya, dan sudah pasti kesempatan i’tikaf (lebih sering ke masjid) pun berkurang.

Maka dari itu jangan asal mengajukan diri menjadi panitia/PO bukber, minimal berkonsultasi dengan yang lebih mengetahui.

 

Advertisements
Standard
Tak Berkategori

Kebiasaan-kebiasaan

Hidup ini singkat dan berulang-ulang. Pagi ke siang lalu ke malam. Senin hingga Minggu dan kembali ke Senin. Januari kepada Desember. Dan seterusnya. Singkatnya hidup dibagi ke dalam beberapa fase : bayi; balita; anak-anak; remaja; dewasa; tua. Mulai berupa sperma ke jasad yang membeku semua itu memiliki pola yang berubah-ubah, namun tetap.

Pagi ke malam dilalui aktivitas dari senin ke minggu dan berulang berbulan-bulan dan seterusnya. Tahun ke tahun bentuk fisik mungkin berubah, pun psikis. Perubahan itu merupakan kontradiksi diri dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebutuhannya.

Aku. Aku memulai aktivitas seperti kebanyakan orang : bangun pagi, kemudian sembahyang, melakukan berbagai aktivitas, hingga malam tiba dan tidur kemudian, lalu begitu seterusnya. Yang mau aku sampaikan adalah sedikit kebiasaan yang mungkin menjadi kepribadian dan tidak diketahui banyak orang.

Pertama, dari jam 4.30 pagi – jam 06.30 aku bangun, sembahyang, mandi, sarapan. Jam 6.31 – 12.00 aku beraktivitas (kuliah/bekerja/dsb), sembahyang, makan siang, dan istirahat. Jam 12.01 – 15.00 terkadang tidur siang, melanjutkan akivitas, hingga sembahyang mengakhiri kegiatan. Jam 15.01 – 18.00 selesai beraktivitas, mengistirahatkan badan dan pikiran, bercengkerama dengan keluarga/teman-teman, mandi sore, lalu sembahyang. 18.01 – 19.00 makan malam hingga menunggu akhir kewajiban sembahyang. Jam 19.01 – 22.00 melakukan hobi: membaca, menonton tv, berselancar di dunia maya dan sebagainya. Jam 22.01 – 23.30 melakukan aktivitas yang tertunda : tugas kuliah, membaca berita di layar telepon genggam pintar, bersiap-siap untuk tidur.

Kedua, penekanan pada bagian mandi (kebersihan). Orang-orang bilang aku (sebagai laki-laki) tergolong lama ketika mandi. Ya, karena selain pada umumnya ditambah pula memakai minyak rambut, pelembab kulit, dsb. Dan yang mungkin membedakan dengan kebanyakan orang pada umumnya, aku usahakan rutin merapikan kumis dan janggut 2 hari sekali, memangkas bulu ketiak, badan, dan sekitar kemaluan +/- 40 hari sekali, dan mencukur rambut kepala 40 – 60 hari sekali tergantung kemauan. Dari pakaian, mungkin aku termasuk suka yang sederhana. Hanya saja, dari 4 saku celana : bagian kanan depan untuk telepon genggam; bagian kiri depan untuk sapu tangan; bagian kiri belakang untuk tisu; dan bagian kanan belakang untuk dompet.

Ketiga, dari pagi sampai malam aku usahakan aktivitasku serinci mungkin. Sudah aku katakan, bukankah hidup ini singkat dan berulang-ulang ? Dan ini hanya sedikit aktivitas fisik sehari-hari yang menjadi kebiasaan. Kebiasaan untuk tampil bersih, rapi, wangi, nyaman, dan tetap dalam waktu yang rinci.

Begitulah aku dan biasakanlah diri untuk menerima (atau setidaknya menyerupai) kebiasaan-kebiasaanku. Bagaimana denganmu ?

 

Standard
Tak Berkategori

Sistem Pendidikan Kita

 Pendidikan kita dewasa ini memperlihatkan antara mahasiswa dengan mahasiswa saling tidak mempercayai, mahasiswa dengan dosen tidak menghormati, dosen dengan mahasiswa tidak ada komunikasi, dosen dengan dosen tidak ada koordinasi.

Tidak perlu heran apabila : sarjana keagamaan jauh dari nilai-nilai agama apalagi memperbaiki agama sesamanya; sarjana hukum adalah yang pertama kali melanggar hukum, dengan dalih yang ia cari-cari melalui kelemahan hukum itu sendiri; sarjana ekonomi malah memperkaya diri dan kroni-kroninya; sarjana kedokteran sengaja berlarut-larut mengobati pasien, sehingga pasien seringkali pulang pergi; sarjana teknik mengubah komposisi struktur bukan sebagai inovasi, melainkan demi kepentingan sendiri; sarjana politik, sarjana bahasa, sarjana farmasi, dan sarjana-sarjana lain yang banyak sebutannya itu sama-sama melakukannya.

Ramai-ramai tidak peduli. “Itu sudah menjadi tradisi,” Belanya. Sekolah 4 tahun ditambah biaya pendidikan selangit membuat pola pikir praktisi pendidikan itu pragmatis. Ada uang-daftar-diterima-kuliah-skripsi-wisuda. SKS berjumlah 145 kurang lebih dikalikan saja dengan 100 ribu rupiah per 1 SKS-nya, belum termasuk uang bangunan, uang praktik, uang kos-kosan, uang kebutuhan hidup sehari-hari. Jika dihitung-hitung, 4 tahun itu menghabiskan dana mulai 50 juta rupiah hingga 1 milyar rupiah. Luar biasa besarnya. Uang sebesar itu bisa untuk membeli 1000 sepeda, atau 100 motor, atau 10 mobil, atau 1 rumah lantai dua dan 4 kamar didaerah penyangga ibukota.

Siapa yang patut dipersalahkan ? Jokowi ? Ahok ? Komunis ? Ekstrimis ? Radikalis ? Fundamentalis ? Jonru ?

Ah, itu hanya sebagian nama saja yang sering dipersalahkan di media-media sosial kekinian. Bersamaan dengan sarjana-sarjana yang asyik ber-selfie dengan kamera canggihnya dengan tagline “TERIMAKASIH TUHAN, AKHIRNYA SARJANA!” Kemudian banjir komentar : Congraduation! Congratulation! Selamat! Caiyoo! Sampai ujung-ujungnya minta traktir. Keluar uang lagi!

Mereka ini bercampur-baur berpadu jadi satu dengan sarjana-sarjana “yang masih jujur”. Jumlah mereka keseluruhan lebih dari 7000000 orang yang lima puluh persennya sudah bekerja atau lanjut pendidikan dan sisanya butuh penghasilan. Dengan modal ijazah yang dari SD, SMP, SMA, ditambah Pendidikan Tinggi baru-baru ini mereka menggantungkan asa. Apa kelebihannya ? SD menyontek, SMP mencuri kunci jawaban, SMA membeli kelulusan, Pendidikan Tinggi hasil jiplakan karya orang lain. Mereka sekarang butuh pekerjaan, butuh penghasilan, untuk membahagiakan orangtua-keluarga hingga menghalalkan sang pujaan hati. Niat mereka memang tulus, tetapi itu tidak cukup untuk membenarkan perbuatan. Atau dengan kata lain, selama prosesnya saja sudah ngapusi selama itu pula hasil untuk menghidupi diri dan orang lain dari hasil ngapusi itu sendiri.

Apakah mereka semua sama seperti itu ?

Tidak! “yang masih jujur” belum mati. Masih kita temui mahasiswa-mahasiswa dari kebanyakan keluarga kurang mampu, mahasiswa-mahasiswa yang berjalan kaki, mahasiswa-mahasiswa yang pada dasarnya menghargai nilai dan kejujuran diatas materi dan tepuk tangan. Mereka kurang begitu populer, tidak terlalu aktif berorganisasi atau berorganisasi sebanyak-banyaknya untuk mencukupi kualifikasi beasiswa. Mereka ini lah orang-orang yang baru disadari menjelang kepergiannya ?

Bisa jadi di awal perkuliahan mereka adalah “tersangka” sistem pendidikan yang kemudian bertobat menjadi orang suci atau memang sejak lahir sampai wisudanya mereka tetap suci. Mereka begitu menonjol dibanding dengan teman-teman lain, datang lebih pagi dan pulang paling petang, tidak pernah melewatkan perkuliahan, sehingga teman-temannya memuji dan bersorak-sorai namanya sampai ujung-ujungnya, “gue titip absen ya!” Dimulai dari sini kehidupan mencapai klimaksnya, teman-teman yang dulu bersorak-sorai mencemoohnya, yang tadinya dekat mulai menjauh, dulu dikerumuni kini ditinggal sendiri. Semua itu hanya karena 1 kata “maaf”.

Sampai pada akhirnya hari kelulusan telah tiba.

Mahasiswa-mahasiswa kebanyakan itu datang dengan keluarga besar dan mobil-mobil pribadi. Pagi-pagi sekali sudah rias dari salon, dari ujung rambut hingga ujung kaki rapi. Satu per satu mereka dipanggil sambil dipindah tali. Setelah itu mereka melepas hasrat yang dipendam selama ini “Gue lulus!” berfoto dengan kawan-kawan dan tidak lupa keluarga dalam bingkai dengan latar belakang buku-buku untuk dipajang diruang tamu dan menjadi kebanggaan orang-orang yang kebetulan sedang ada perlu. Lalu kemudian, “yang masih jujur” itu datang. Untuk pertama kalinya ia terlambat. Ia datang berjalan kaki dengan keluarga inti. Diklakson sana-sini karena mengganggu lalu lintas mobil-mobil yang berlalu-lalang. Sesampainya, bajunya lusuh penuh keringat. Dan ketika itu pula namanya dipanggil, “Kepada … wisudawan terbaik periode ini.”

 

Standard
Tak Berkategori

Lust and Love

Kalau pacaran atas alasan cinta, mengapa tiap harinya 7000 wanita menggugurkan janin hasil percintaannya ?

Kalau menikah atas dasar ibadah, mengapa setiap jamnya 40 pasangan bercerai di pengadilan agama ?

 

HAMKA mengingatkan :

Cinta laki-laki kepada perempuan, cinta perempuan kepada laki-laki,

Itu belumlah cinta.

Cinta Ayah Bunda kepada anaknya,

Barulah bendul di ambang pintu, menuju cinta yang mutlak.

Puas hati laki-laki dan perempuan, bilamana telah bertemu badan; kecewa dan menangis-nangis sebelum bertemu,

Belum tentu dapat dinamai jalan menuju cinta.

Ilmu pengetahuan manusia sudah tinggi, buat mengatakan :

Bahwa itu bukan cinta.

Standard
Tak Berkategori

Teologi Islam : Suatu Pemahaman Dasar

Suatu pengalaman hidup berharga ketika bersinggungan langsung dengan masyarakat. Teori-teori sosial-politik di bangku kuliah mulai terasa ketika sebagian (mayoritas) masyarakat masing-masing menganut aliran dan kepercayaan yang terdapat pada teori-teori tersebut. Sebuah studi kasus adalah Musholla dekat kos saya di jogja, yang mana diisi “hanya” segelintir jamaah namun memiliki pandangan mengenai Islam yang berbeda. Saya tidak mau menyebut atau mengidentifikasikan mereka misalnya ada yang Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Hizbut Tahrir atau sebagainya. Suatu kekeliruan dan merupakan kesalahan yang fatal apabila mencirikan seseorang yang bukan merupakan karakternya. Disini saya akan membahas kembali (khususnya mengenai Islam dan alirannya) teologi Islam dan semoga menjadi tambahan pengetahun ketika akan menganalisa realitas Islam dan Muslim dewasa ini yang penuh dengan perpecahan, konflik, bahkan saling-bunuh antarsesama. Pembahasan ini merupakan ikhtisar dari buku Harun Nasution (2010) dengan judul Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah, Analisa, Perbandingan yang diterbitkan oleh UI-Press.

 

Sejarah timbulnya Persoalan-persoalan Teologi dalam Islam

Persoalan yang pertama timbul (dalam Islam) adalah dalam bidang politik yang segera meningkat menjadi persoalan teologi. Dalam sejarahnya Nabi Muhammad ketika di Mekkah hanya mempunyai fungsi kepala agama, namun sebaliknya di Madinah, Nabi Muhammad disamping menjadi kepala agama juga menjadi kepala pemerintahan.

Sebagai nabi dan rasul, nabi tentu tak dapat digantikan dan sebagai kepala negara (khilafah) maka ditunjuklah Abu Bakar, kemudian Umar, lalu Utsman. Utsman yang dikenal lemah belum mampu menahan nepotisme dikalangan pemerintahannya yang kemudian memunculkan pemberontakan yang mengakibatkan ia terbunuh. Ali sebagai calon terkuat menggantikan posisi Utsman sebagai Khalifah.

Karena kekisruhan politik ketika itu, timbullah tantangan dari Talhah dan Zubair yang mendapat sokongan dari Aisyah (istri Nabi Muhammad) hingga mereka kalah dan Aisyah dikembalikan ke Mekkah. Tantangan kedua datang dari Mu’awiyah (Gubernur Damaskus) yang menuntut penuntasan pembunuhan Utsman.

Kedua pihak (Ali & Mu’awiyah) sepakat untuk melakukan arbitrase (yang diwakili Abu Musa & Amr ibn al-Ash). Kelicikan Amr merugikan pihak Ali dan secara tidak langsung menjadikan Mu’awiyah sebagai Khalifah tidak resmi. Keputusan Ali menerima arbitrase ditentang segolongan tentaranya yang kemudian keluar dan memisahkan diri (seceders) dan dikenal sebagai al-Khawarij. Sekarang Ali mendapat dua musuh hingga ia terbunuh dan Mu’awiyah dengan mudah menggantikan posisinya sebagai khalifah.

Persoalan-persoalan politik diatas inilah yang kemudian menimbulkan persoalan-persoalan teologi. Timbulah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari islam dan siapa yang tetap dalam islam. Persoalan berkembang tidak hanya mengenai kekafiran, juga mengenai dosa besar (murtakib al-kaba’ir atau capital sinners) juga dipandang kafir.

Persoalan orang berbuat dosa besar ini selanjutnya berpengaruh dalam pertumbuhan teologi islam selanjutnya: masihkah ia bisa dipandang orang mukmin ataukah ia sudah menjadi kafir karena berbuat dosa besar itu ?

Melalui persoalan ini munculah tiga aliran:

Pertama, Khawarij, yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir (murtad). Kedua, Murji’ah, yang menegaskan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin, soal dosa dikembalikan kepada Allah. Ketiga, Mu’tazilah, orang yang berbuat dosa besar bukan kafir dan bukan pula mukmin (posisi diantara dua posisi atau al manzilah bain al manzilitain).

Dalam pada itu timbul pula dalam islam dua aliran dalam teologi: pertama, al-qadariah, manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya (free will atau free act. Kedua, al-jabariah, manusia dalam segala tingkah lakunya bertindak dengan paksaan dari Tuhan (fatalism).

Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam Islam ialah aliran khawarij, Mur’jiah, Mu’tazilah, Asy’ariah (9335 M), dan Maturidiah (w. 944 M). Yang masih ada sampai sekarang ialah aliran-aliran Maturidiah (mazhab hanafi) dan Asy’ariah (mazhab sunni lainnya), dan keduanya disebut Ahl sunnah wa al-jamaah.

 

Kaum Khawarij

Kaum khawarij memiliki paham demokrasi, yaitu siapa saja dari umat islam berhak menjadi khalifah sesuai dengan mengikuti syari’at islam, kalau ia menyeleweng maka wajib dijatuhkan.

Kaum khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Hidup di padang pasir yang serba tandus membuat mereka sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati serta berani, dan bersikap merdeka, tidak bergantung pada orang lain. Perubahan agama tidak membawa perubahan dalam sifat-sifat ke-badawi-an mereka.

Kaum khawarij terpecah-pecah menjadi beberapa sub-sekte yang diantaranya: Al-Muhakkimah, Al-Azariqah, Al-Najdat, Al-‘Ajaridah, Al-Sufriah, dan Al-Ibadiah.

 

Kaum Murji’ah

Kaum Murji’ah pada awalnya merupakan golongan baru yang bersikap netral tidak turut dalam praktek kafir-mengkafirkan. Bagi mereka sahabat-sahabat yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar.

Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah (melainkan siapa yang masih mukmin dan tidak keluar dari islam), dan memandang lebih baik menunda (arja’a). Kata arja’a mengandung arti membuat sesuatu mengambil tempat dibelakang dalam makna memandang kurang penting. Arja’a selanjutnya, juga mengandung arti pengharapan.

Pada umumnya kaum Murji’ah dapat dibagi dalam dua golongan besar, golongan moderat dan golongan ekstrim. Golongan moderat (diterima ahl sunnah wa al-jama’ah) berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Dalam golongan Murji’ah moderat ini termasuk al-Hasan Ibn Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Abi Talib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadits. Diantara golongan ekstrim ialah al-Jahmiah, pengikut-pengikut Jahm Ibn Safwan. Menurut golongan ini orang islam yang percaya pada Tuhan dan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufr tempatnya hanyalah dalam hati.

 

Qadariah dan Jabariah

Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk didalamnya manusia sendiri. Selanjutnya Tuhan bersifat mahakuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Disini timbullah pertanyaan sampai dimanakah manusia sebagai ciptaan Tuhan, bergantung pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan dalam menentukan perjalanan hidupnya ? diberi Tuhankan manusia kemerdekaan dalam mengatur hidupnya ? ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan.

Dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti ini kaum Qadariah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dengan demikian nama qadariah berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar atau kadar Tuhan (free will atau free act). Paham qadariah pertama kali ditimbulkan oleh Ma’bad al-Juhani dan temannya Ghailan al-Dimasyqi.

Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang diyakini berisi paham qadariah diantaranya: al-Kahf (18) ayat 29, Fussilat (41) ayat 40, al-Imran (3) ayat 164, al-Rafd (13) ayat 11.

Kaum jabariah berpendapat sebaliknya. Manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Nama jabariah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh kada dan kadar Tuhan (fatalism atau predestination). Tokohnya ialah al-Ja’d Ibn Dirham dan yang menyiarkan Jahm Ibn Safwan (ekstrim) serta al-Nijjar dan Dirar (moderat).

Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang diyakini berisi paham jabariah diantaranya: al-An’am (6) ayat 112, al-Saffat (37) ayat 96, al-Hadid (57) ayat 22.

Dalam sejarah teologi islam, selanjutnya paham qadariah dianut oleh kaum Mu’tazilah sedang paham jabariah (tidak identik dengan tokoh-tokoh yang disebutkan), terdapat dalam aliran al-Asy’ariah.

 

Kaum Mu’tazilah

Kaum mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan-persoalan yang dibawa kaum khawarij dan Murji’ah. Dalam pembahasan, mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama “kaum rasionalis islam”.

Golongan mu’tazilah pertama hirau pada persoalan politik. Yaitu ketika al-Tabari memilih memisahkan diri dari pertikaian sewaktu Qa’is Ibn Sa’ad menjadi gubernur Mesir. sementara mu’tazilah golongan kedua selain hirau pada persoalan politik juga hirau dengan persoalan-persoalan teologi dan falsafat. Peristiwa ini dimulai dengan Wasil Ibn ‘Ata serta temannya Amr Ibn Ubaid menjauhkan diri dari Hasan al-Basri.

Kaum Mu’tazilah memiliki pancasila-nya yaitu al-Usul al-Khamsah (lima ajaran dasar yang menjadi pegangan), sebagai dijelaskan pemuka-pemuka mu’tazilah sendiri, diberi urutan menurut pentingnya kedudukan tiap dasar, sebagai berikut:

  1. Al-Tawhid (kemaha-Esa-an Tuhan), Tuhan dalam paham mereka, akan betul-betul Maha Esa hanya kalau Tuhan merupakan suatu zat yang unik, tidak ada yang serupa dengan Dia.
  2. al-‘adl (Keadilan), hanya Tuhan-lah yang berbuat adil; Tuhan tidak bisa berbuat zalim.
  3. al-wa’d wa al-wa’id (janji dan ancaman), Tuhan tidak akan disebut adil, jika ia tidak memberi pahala kepada orang yang berbuat baik dan jika tidak menghukum orang yang berbuat buruk.
  4. al-manzilah bain al-manzilatain (posisi menengah bagi berbuat dosa besar), pembuat dosa besar bukanlah kafir, karena ia masih percaya kepada Tuhan dan Nabi Muhammad; tetapi bukan pula mukmin, karena imannya tidak lagi sempurna.
  5. al-‘Amr bi al-‘Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar (perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat), perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat dianggap sebagai kewajiban bukan oleh kaum Mu’tazilah saja, tetapi juga oleh golongan umat islam lainnya. Dengan demikian kalau dapat cukup dengan seruan, tetapi kalau perlu dengan kekerasan.

Kaum Mu’tazilah ataupun menggunakan pemikiran mu’tazilah tidaklah membuat seseorang keluar dari islam.

 

Ahli Sunnah dan Jama’ah

Istilah ahli sunnah dan jama’ah terlihat muncul sebagai reaksi terhadap paham-paham dan sikap-sikap kaum Mu’tazilah dalam menyiarkan ajarannya. Istilah tersebut mengacu pada golongan yang berpegang pada sunnah (hadits) dan merupakan mayoritas.

Yang dimaksud dengan ahli sunnah dan jama’ah di dalam teologi islam adalah Abu al-Hasan al-Asy’ari (873 M-935 M) [kaum Asy’ariah]. Tokoh-tokoh lainnya adalah al-Baqillani, Ibn Mujahid, al-Bahili, al-Juwaini, al-Ghazali, Ibn Tumart (Maroko-Andalusia) dan al-Ghaznawi (bagian Timur-India). Pengaruh Asy’ariah masih tetap bertahan hingga saat ini.

Golongan lainnya ialah Maturidiah (Abu Mansur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud al-Maturidi) (pertengahan abad 9 M-944 M). Sebagai pengikut Abu Hanifah yang banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya, al-Maturidi banyak pula memakai akal dalam sistem teologinya. Oleh karena itu antara teologinya dan teologi yang ditimbulkan oleh Asy’ari terdapat perbedaan, sungguhpun keduanya timbul sebagai reaksi terhadap aliran Mu’tazilah. Tokoh lainnya ialah Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi.

 

Sumber:

Nasution, Harun. (2010). Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah, Analisa, Perbandingan. Jakarta: UI-Press.

 

Standard
Tak Berkategori

Suatu Pertanggungjawaban

Seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad, “Ya nabi, siapakah manusia yang paling berat ujiannya (cobaan hidup) ?”

Ia (Nabi Muhammad) menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185)

Belum beriman jika manusia hidup senang-senang saja. Pun sedih-sedih saja. Suka-duka, senang-susah, bahagia-menderita sudah merupakan takdir-Nya. Karena, “Kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja. (HAMKA, tth.)”

Ujian hidup bermacam-macam sesuai kadar imannya. Nabi dan narapidana sama-sama diberi kemudahan dan kesusahan, namun masing-masing memiliki esensi yang berbeda. Begitu juga laki-laki dan perempuan, pemuda dan orangtua, orang sehat dan orang sakit, orang Islam dan orang non-Islam memiliki ujian hidupnya masing-masing.

Sekelumit Ujian

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya lah kami dikembalikan).’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(Al Baqarah (2) : 155 – 157)

Bukan keluhan, tidak juga perlu dikasihani. 4 tahun terakhir merupakan saat-saat tersulit bagi hidup saya (dan keluarga). Sejak tahun 2012 Ayah terkena PHK, otomatis kehidupan keluarga mau tidak mau harus berubah. Tahun 2013 – 2014 kami masih bisa mengandalkan pesangon dan aset keluarga. Tahun 2015, belum tuntas ujian tahun-tahun sebelumnya ujian baru makin bertubi-tubi. Sudah 2 tempat hunian terjual ditambah (alm) Ibu terkena serangan jantung. Puncaknya, tahun 2016 sudah tidak ada aset tunai, hanya berupa aset fisik. Dan Ibu pun lebih dahulu meninggalkan kami (keluarganya) kembali kepada Tuhan (pemilik hakikinya).

Jalan hidup

“Maka sesungguhnya bersama (setelah) kesulitan ada kemudahan; Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(Al Insyirah (94) : 5 – 6)

Menurut Aristoteles (384 SM – 322 SM) manusia adalah binatang yang berpikir (Al insan hayawan natiq). Artinya bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal. Dengan akal pikirannya manusia memposisikan dirinya diatas makhluk-makhluk ciptaan lainnya, dan tanpanya manusia hanya seonggok daging terbungkus kulit seperti hewan-hewan lainnya.

Imam Syafi’i (767 M – 820 M) mengatakan, “Air yang tergenang hanya menyebabkan bau busuk, air yang mengalir memberikan kehidupan.” Maksud dari kalimat tersebut adalah apabila manusia hanya menyerahkan hidup kepada Tuhan, maka dungu dan hina-lah ia. Namun jika ia berikhtiar (berdoa dan berusaha), maka tidak hanya masalah yang teratasi tetapi juga manfaat dan kemuliaan yang akan diraih.”

Tidak hanya diam, saya pun berikhtiar. Mulai ikut lomba-lomba esai, membantu mencari penghuni kos agar mendapat fee, berdiplomasi dengan pemilik kos agar diberi fasilitas lebih, mendekati teman-teman yang sekiranya dapat membantu meringankan beban dan saling membalas budi, merapikan tempat ibadah dan mendapatkan upah (beramal dan bekerja), mengikuti majelis-majelis ilmu yang menyediakan snacks and beverages (belajar dan silaturahmi), menggadai kendaraan, menjual barang-barang kesukaan dan berharga, hingga menjadi pengawas ujian mahasiswa sudah pernah saya lakoni.

Alhamdulillah, semua (ujian) dirasakan ketika muda saat badan masih sehat dan akal masih berfungsi dengan baik. Tidak perlu malu apalagi merasa hina. Justru dengan berbagai peran yang dilakoni itu, saya menjadi tahu bagaimana kerasnya hidup dari hasil tangan dan keringat sendiri. Dari petugas kebersihan (cleaning servicer) sampai dekan (dean) saya berteman. Dari aktif kuliah hingga ganti mengawas kuliah (bahkan kakak-kakak tingkatan) saya alami.

Saya memang bukan Imam Syafi’i dengan segala keterbatasannya selama hidup mampu menghafal Alquran di usia 7 tahun, hafal kitab (buku) hadits Muwatta’ di usia 10 tahun, dan diperbolehkan merumuskan hukum agama secara pribadi di usia 14 tahun (belum dewasa). Bukan pula Imam Ghazali (1058 M – 1111 M) yang namanya diperhitungkan di dunia keilmuan dan kitab karangannya masih relevan digunakan 12 abad lamanya. Dalam 4 tahun saya diuji dengan cobaan hidup yang cukup berat dan baru menghafal 1/3 surat dalam Alquran atau 1/10 ayat keseluruhan dan 16 Bab UUD 1945 beserta 37 pasal-pasalnya.

Badai Pasti Berlalu

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(Al Fajr (89) : 27 -30)

Ingatlah bahwa usia, rejeki, pasangan hidup, dan nasib baik dan nasib buruk sudah ditentukan kepada masing-masing individu. Yang perlu dilakukan adalah jalani dengan sabar dan yakin bahwa dari semua ujian hidup itu ada hikmah (pelajaran) yang bisa dipetik.

Jangan putus asa dan berhenti berharap. Jika Tuhan tidak memberikan hasilnya di dunia, maka Dia tidak akan menyia-nyiakannya di hari dimana segala sesuatu dibalas sesuai dengan apa yang dilakukannya (akhirat).

Standard
Tak Berkategori

Kemiskinan diantara Warisan Keteladanan

Few days ago, media in indonesia were shocked by clashes news among drivers to police. They (drivers) complained about income decline. Transportation services based on technology system considered as the cause. Ministries as soon as possible holded meeting. Late, as usual. Incident occured, the government anticipate.

 

Kemiskinan menjadi momok tersendiri bagi bangsa ini. Setiap hari berita kelaparan, kelangkaan bahan pokok, kekurangan gizi, dan lain-lain menghiasi televisi dari terbitnya matahari sampai dini hari. Kita lupa bahwa selama 353,5 tahun kita hidup melarat. Dan bahkan saya pun lupa kalau di kos tidak memiliki televisi.

Orang disebut miskin jika penghasilan per harinya kurang dari $ 2 menurut PBB dan Rp. 7000 menurut BPS. 30 Juta orang Indonesia berada dibawah garis kemiskinan dan rentan terhadap kemiskinan. Atau 1 orang dari 8 orang Indonesia tidur dalam keadaan lapar dan bangun tanpa ada makanan.

Masalah klasik yang belum tuntas hingga hari ini. Orang-orang miskin cenderung melahirkan generasi-generasi miskin dan orang-orang kaya mempertahankan kekayaannya bahkan melebihi generasi-generasi sebelumnya.

Pemerintah tidak tinggal diam, tetapi bosan. Kenapa dengan adanya Departemen Sosial, Jaminan Sosial, Subsidi, hingga kartu-kartu sakti belum menuntaskan kemiskinan ? Padahal menurut teori, pemutus rantai kemiskinan adalah dana atau inverstasi. Tetapi praktiknya kembali kepada orang-orang miskin, tidak hanya harta tetapi juga motivasi dan pendidikan.

Imam Syafii

Kurang lebih 86 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Sekitar 30 juta dari 250 juta penduduk Indonesia menerapkan mazhab Syafii sebagai mazhab Islamnya.

Saya tidak membahas mazhabnya, tetapi kehidupan pendirinya tersebut. Imam Syafii lahir di Gaza (Palestina) dari pasangan yang bersahaja. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih kecil tanpa meninggalkan warisan yang berarti. Ibunya bekerja keras kesana-kemari demi menghidupi dan mendidik Syafii.

Di usia 7 tahun, Syafii berhasil menghafal Alquran yang tebalnya lebih dari 600 halaman. Usia 10 – 12 tahun ia berhasil menghafal buku Al Muwatta karangan gurunya. Dan usia 14 – 15 tahun ia diperbolehkan mengajar dan merumuskan hukum sendiri di Masjidil Haram, kiblat 1,3 Milyar umat Islam saat ini.

Meski miskin Syafii tidak menyerah. Habisnya kertas dan tinta untuk menulis disiasati Syafii dengan menghafal buku-buku. Syafii memang miskin jika melihat dari hartanya, tetapi dari ilmu dan manfaatnya Syafii tidak terlampaui sebagai pendiri Ushul Fiqih yang metodenya digunakan mayoritas Muslim di Asia Tenggara.

Al Ghazali

Dari pesisir Mediterania, kita beralih ke daerah sisa-sisa kemaharajaan Persia. Seorang anak terlahir dari Bapak yang bekerja serabutan. Sang Bapak terus bekerja hingga dipanggil sang ilahi. Al Ghazali, anak tersebut, ditinggal dengan kakaknya dan harta yang hanya cukup hingga pendidikan dasar.

Al Ghazali sadar kalau ia tidak seperti anak-anak lainnya. Ia terus belajar hingga menjadi yang terpintar. Biaya pendidikan dasar pun ia habiskan dan sekolah tinggi melalui promosi guru-gurunya. Selain belajar kepada guru-gurunya, Al Ghazali juga mengajari mereka ilmu-ilmu yang dikuasainya.

Al Ghazali ditempa ditengah kondisi umat yang terpecah-belah. Ada Sunni, Syiah, Maturidiah, Murjiah, Khawarij di dalam Islam dan Filsafat Yunani Kuno, Filsafat Mesopotamia – Babilonia, hingga Filsafat Persia tempat kelahirannya. Al Ghazali lah orang Islam pertama yang memperbandingkan antara Islam dan ajaran-ajaran di luar Islam. Maka ia lah yang disebut hujjatul Islam.

Biaya sekolah dulu tidak semahal sekarang. Tetapi biaya pendidikan Al Ghazali memang disesuaikan dengan kemampuan almarhum orangtuanya. Al Ghazali bukan orang biasa. Ia tidak hanya belajar sebagaimana rutinitas belajar orang-orang sekarang. Ia sengaja belajar di kelas dimana terdapat suguhan makanan. Seperti tradisi di masjid-masjid besar di Indonesia yang menyediakan makanan ringan ketika diadakan khotbah, Al Ghazali memanfaatkannya.

Ikhtisar

Kemiskinan bukan hal baru. Sejak zaman para nabi kemiskinan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Kemiskinan tidak hanya bisa diatasi melalui bantuan pemerintah. Orang-orang miskin juga perlu sadar bahwa negara juga dibiayai rakyatnya. Jika rakyat miskin, begitu juga negaranya.

Imam Syafii dan Al Ghazali hanya dua dari sekian banyak tokoh yang hidup dalam kemiskinan. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan bukan menjadi penghalang seseorang untuk menjadi terkemuka. Nama mereka berdua tidak asing di Indonesia. 30 juta Muslim Indonesia menggunakan mazhab syafii, setara dengan jumlah orang-orang miskin. Jutaan Muslim Indonesia lainnya menggunakan buku hingga nama Al Ghazali sebagai identitasnya.

Mengapa kemiskinan masih menjadi momok bagi bangsa yang meneladani Imam Syafii dan Al Ghazali ?

Standard