Tak Berkategori

Sistem Pendidikan Kita

 Pendidikan kita dewasa ini memperlihatkan antara mahasiswa dengan mahasiswa saling tidak mempercayai, mahasiswa dengan dosen tidak menghormati, dosen dengan mahasiswa tidak ada komunikasi, dosen dengan dosen tidak ada koordinasi.

Tidak perlu heran apabila : sarjana keagamaan jauh dari nilai-nilai agama apalagi memperbaiki agama sesamanya; sarjana hukum adalah yang pertama kali melanggar hukum, dengan dalih yang ia cari-cari melalui kelemahan hukum itu sendiri; sarjana ekonomi malah memperkaya diri dan kroni-kroninya; sarjana kedokteran sengaja berlarut-larut mengobati pasien, sehingga pasien seringkali pulang pergi; sarjana teknik mengubah komposisi struktur bukan sebagai inovasi, melainkan demi kepentingan sendiri; sarjana politik, sarjana bahasa, sarjana farmasi, dan sarjana-sarjana lain yang banyak sebutannya itu sama-sama melakukannya.

Ramai-ramai tidak peduli. “Itu sudah menjadi tradisi,” Belanya. Sekolah 4 tahun ditambah biaya pendidikan selangit membuat pola pikir praktisi pendidikan itu pragmatis. Ada uang-daftar-diterima-kuliah-skripsi-wisuda. SKS berjumlah 145 kurang lebih dikalikan saja dengan 100 ribu rupiah per 1 SKS-nya, belum termasuk uang bangunan, uang praktik, uang kos-kosan, uang kebutuhan hidup sehari-hari. Jika dihitung-hitung, 4 tahun itu menghabiskan dana mulai 50 juta rupiah hingga 1 milyar rupiah. Luar biasa besarnya. Uang sebesar itu bisa untuk membeli 1000 sepeda, atau 100 motor, atau 10 mobil, atau 1 rumah lantai dua dan 4 kamar didaerah penyangga ibukota.

Siapa yang patut dipersalahkan ? Jokowi ? Ahok ? Komunis ? Ekstrimis ? Radikalis ? Fundamentalis ? Jonru ?

Ah, itu hanya sebagian nama saja yang sering dipersalahkan di media-media sosial kekinian. Bersamaan dengan sarjana-sarjana yang asyik ber-selfie dengan kamera canggihnya dengan tagline “TERIMAKASIH TUHAN, AKHIRNYA SARJANA!” Kemudian banjir komentar : Congraduation! Congratulation! Selamat! Caiyoo! Sampai ujung-ujungnya minta traktir. Keluar uang lagi!

Mereka ini bercampur-baur berpadu jadi satu dengan sarjana-sarjana “yang masih jujur”. Jumlah mereka keseluruhan lebih dari 7000000 orang yang lima puluh persennya sudah bekerja atau lanjut pendidikan dan sisanya butuh penghasilan. Dengan modal ijazah yang dari SD, SMP, SMA, ditambah Pendidikan Tinggi baru-baru ini mereka menggantungkan asa. Apa kelebihannya ? SD menyontek, SMP mencuri kunci jawaban, SMA membeli kelulusan, Pendidikan Tinggi hasil jiplakan karya orang lain. Mereka sekarang butuh pekerjaan, butuh penghasilan, untuk membahagiakan orangtua-keluarga hingga menghalalkan sang pujaan hati. Niat mereka memang tulus, tetapi itu tidak cukup untuk membenarkan perbuatan. Atau dengan kata lain, selama prosesnya saja sudah ngapusi selama itu pula hasil untuk menghidupi diri dan orang lain dari hasil ngapusi itu sendiri.

Apakah mereka semua sama seperti itu ?

Tidak! “yang masih jujur” belum mati. Masih kita temui mahasiswa-mahasiswa dari kebanyakan keluarga kurang mampu, mahasiswa-mahasiswa yang berjalan kaki, mahasiswa-mahasiswa yang pada dasarnya menghargai nilai dan kejujuran diatas materi dan tepuk tangan. Mereka kurang begitu populer, tidak terlalu aktif berorganisasi atau berorganisasi sebanyak-banyaknya untuk mencukupi kualifikasi beasiswa. Mereka ini lah orang-orang yang baru disadari menjelang kepergiannya ?

Bisa jadi di awal perkuliahan mereka adalah “tersangka” sistem pendidikan yang kemudian bertobat menjadi orang suci atau memang sejak lahir sampai wisudanya mereka tetap suci. Mereka begitu menonjol dibanding dengan teman-teman lain, datang lebih pagi dan pulang paling petang, tidak pernah melewatkan perkuliahan, sehingga teman-temannya memuji dan bersorak-sorai namanya sampai ujung-ujungnya, “gue titip absen ya!” Dimulai dari sini kehidupan mencapai klimaksnya, teman-teman yang dulu bersorak-sorai mencemoohnya, yang tadinya dekat mulai menjauh, dulu dikerumuni kini ditinggal sendiri. Semua itu hanya karena 1 kata “maaf”.

Sampai pada akhirnya hari kelulusan telah tiba.

Mahasiswa-mahasiswa kebanyakan itu datang dengan keluarga besar dan mobil-mobil pribadi. Pagi-pagi sekali sudah rias dari salon, dari ujung rambut hingga ujung kaki rapi. Satu per satu mereka dipanggil sambil dipindah tali. Setelah itu mereka melepas hasrat yang dipendam selama ini “Gue lulus!” berfoto dengan kawan-kawan dan tidak lupa keluarga dalam bingkai dengan latar belakang buku-buku untuk dipajang diruang tamu dan menjadi kebanggaan orang-orang yang kebetulan sedang ada perlu. Lalu kemudian, “yang masih jujur” itu datang. Untuk pertama kalinya ia terlambat. Ia datang berjalan kaki dengan keluarga inti. Diklakson sana-sini karena mengganggu lalu lintas mobil-mobil yang berlalu-lalang. Sesampainya, bajunya lusuh penuh keringat. Dan ketika itu pula namanya dipanggil, “Kepada … wisudawan terbaik periode ini.”

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s