Tak Berkategori

Suatu Pertanggungjawaban

Seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad, “Ya nabi, siapakah manusia yang paling berat ujiannya (cobaan hidup) ?”

Ia (Nabi Muhammad) menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185)

Belum beriman jika manusia hidup senang-senang saja. Pun sedih-sedih saja. Suka-duka, senang-susah, bahagia-menderita sudah merupakan takdir-Nya. Karena, “Kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja. (HAMKA, tth.)”

Ujian hidup bermacam-macam sesuai kadar imannya. Nabi dan narapidana sama-sama diberi kemudahan dan kesusahan, namun masing-masing memiliki esensi yang berbeda. Begitu juga laki-laki dan perempuan, pemuda dan orangtua, orang sehat dan orang sakit, orang Islam dan orang non-Islam memiliki ujian hidupnya masing-masing.

Sekelumit Ujian

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya lah kami dikembalikan).’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(Al Baqarah (2) : 155 – 157)

Bukan keluhan, tidak juga perlu dikasihani. 4 tahun terakhir merupakan saat-saat tersulit bagi hidup saya (dan keluarga). Sejak tahun 2012 Ayah terkena PHK, otomatis kehidupan keluarga mau tidak mau harus berubah. Tahun 2013 – 2014 kami masih bisa mengandalkan pesangon dan aset keluarga. Tahun 2015, belum tuntas ujian tahun-tahun sebelumnya ujian baru makin bertubi-tubi. Sudah 2 tempat hunian terjual ditambah (alm) Ibu terkena serangan jantung. Puncaknya, tahun 2016 sudah tidak ada aset tunai, hanya berupa aset fisik. Dan Ibu pun lebih dahulu meninggalkan kami (keluarganya) kembali kepada Tuhan (pemilik hakikinya).

Jalan hidup

“Maka sesungguhnya bersama (setelah) kesulitan ada kemudahan; Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(Al Insyirah (94) : 5 – 6)

Menurut Aristoteles (384 SM – 322 SM) manusia adalah binatang yang berpikir (Al insan hayawan natiq). Artinya bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal. Dengan akal pikirannya manusia memposisikan dirinya diatas makhluk-makhluk ciptaan lainnya, dan tanpanya manusia hanya seonggok daging terbungkus kulit seperti hewan-hewan lainnya.

Imam Syafi’i (767 M – 820 M) mengatakan, “Air yang tergenang hanya menyebabkan bau busuk, air yang mengalir memberikan kehidupan.” Maksud dari kalimat tersebut adalah apabila manusia hanya menyerahkan hidup kepada Tuhan, maka dungu dan hina-lah ia. Namun jika ia berikhtiar (berdoa dan berusaha), maka tidak hanya masalah yang teratasi tetapi juga manfaat dan kemuliaan yang akan diraih.”

Tidak hanya diam, saya pun berikhtiar. Mulai ikut lomba-lomba esai, membantu mencari penghuni kos agar mendapat fee, berdiplomasi dengan pemilik kos agar diberi fasilitas lebih, mendekati teman-teman yang sekiranya dapat membantu meringankan beban dan saling membalas budi, merapikan tempat ibadah dan mendapatkan upah (beramal dan bekerja), mengikuti majelis-majelis ilmu yang menyediakan snacks and beverages (belajar dan silaturahmi), menggadai kendaraan, menjual barang-barang kesukaan dan berharga, hingga menjadi pengawas ujian mahasiswa sudah pernah saya lakoni.

Alhamdulillah, semua (ujian) dirasakan ketika muda saat badan masih sehat dan akal masih berfungsi dengan baik. Tidak perlu malu apalagi merasa hina. Justru dengan berbagai peran yang dilakoni itu, saya menjadi tahu bagaimana kerasnya hidup dari hasil tangan dan keringat sendiri. Dari petugas kebersihan (cleaning servicer) sampai dekan (dean) saya berteman. Dari aktif kuliah hingga ganti mengawas kuliah (bahkan kakak-kakak tingkatan) saya alami.

Saya memang bukan Imam Syafi’i dengan segala keterbatasannya selama hidup mampu menghafal Alquran di usia 7 tahun, hafal kitab (buku) hadits Muwatta’ di usia 10 tahun, dan diperbolehkan merumuskan hukum agama secara pribadi di usia 14 tahun (belum dewasa). Bukan pula Imam Ghazali (1058 M – 1111 M) yang namanya diperhitungkan di dunia keilmuan dan kitab karangannya masih relevan digunakan 12 abad lamanya. Dalam 4 tahun saya diuji dengan cobaan hidup yang cukup berat dan baru menghafal 1/3 surat dalam Alquran atau 1/10 ayat keseluruhan dan 16 Bab UUD 1945 beserta 37 pasal-pasalnya.

Badai Pasti Berlalu

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(Al Fajr (89) : 27 -30)

Ingatlah bahwa usia, rejeki, pasangan hidup, dan nasib baik dan nasib buruk sudah ditentukan kepada masing-masing individu. Yang perlu dilakukan adalah jalani dengan sabar dan yakin bahwa dari semua ujian hidup itu ada hikmah (pelajaran) yang bisa dipetik.

Jangan putus asa dan berhenti berharap. Jika Tuhan tidak memberikan hasilnya di dunia, maka Dia tidak akan menyia-nyiakannya di hari dimana segala sesuatu dibalas sesuai dengan apa yang dilakukannya (akhirat).

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s