Tak Berkategori

Kemiskinan diantara Warisan Keteladanan

Few days ago, media in indonesia were shocked by clashes news among drivers to police. They (drivers) complained about income decline. Transportation services based on technology system considered as the cause. Ministries as soon as possible holded meeting. Late, as usual. Incident occured, the government anticipate.

 

Kemiskinan menjadi momok tersendiri bagi bangsa ini. Setiap hari berita kelaparan, kelangkaan bahan pokok, kekurangan gizi, dan lain-lain menghiasi televisi dari terbitnya matahari sampai dini hari. Kita lupa bahwa selama 353,5 tahun kita hidup melarat. Dan bahkan saya pun lupa kalau di kos tidak memiliki televisi.

Orang disebut miskin jika penghasilan per harinya kurang dari $ 2 menurut PBB dan Rp. 7000 menurut BPS. 30 Juta orang Indonesia berada dibawah garis kemiskinan dan rentan terhadap kemiskinan. Atau 1 orang dari 8 orang Indonesia tidur dalam keadaan lapar dan bangun tanpa ada makanan.

Masalah klasik yang belum tuntas hingga hari ini. Orang-orang miskin cenderung melahirkan generasi-generasi miskin dan orang-orang kaya mempertahankan kekayaannya bahkan melebihi generasi-generasi sebelumnya.

Pemerintah tidak tinggal diam, tetapi bosan. Kenapa dengan adanya Departemen Sosial, Jaminan Sosial, Subsidi, hingga kartu-kartu sakti belum menuntaskan kemiskinan ? Padahal menurut teori, pemutus rantai kemiskinan adalah dana atau inverstasi. Tetapi praktiknya kembali kepada orang-orang miskin, tidak hanya harta tetapi juga motivasi dan pendidikan.

Imam Syafii

Kurang lebih 86 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Sekitar 30 juta dari 250 juta penduduk Indonesia menerapkan mazhab Syafii sebagai mazhab Islamnya.

Saya tidak membahas mazhabnya, tetapi kehidupan pendirinya tersebut. Imam Syafii lahir di Gaza (Palestina) dari pasangan yang bersahaja. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih kecil tanpa meninggalkan warisan yang berarti. Ibunya bekerja keras kesana-kemari demi menghidupi dan mendidik Syafii.

Di usia 7 tahun, Syafii berhasil menghafal Alquran yang tebalnya lebih dari 600 halaman. Usia 10 – 12 tahun ia berhasil menghafal buku Al Muwatta karangan gurunya. Dan usia 14 – 15 tahun ia diperbolehkan mengajar dan merumuskan hukum sendiri di Masjidil Haram, kiblat 1,3 Milyar umat Islam saat ini.

Meski miskin Syafii tidak menyerah. Habisnya kertas dan tinta untuk menulis disiasati Syafii dengan menghafal buku-buku. Syafii memang miskin jika melihat dari hartanya, tetapi dari ilmu dan manfaatnya Syafii tidak terlampaui sebagai pendiri Ushul Fiqih yang metodenya digunakan mayoritas Muslim di Asia Tenggara.

Al Ghazali

Dari pesisir Mediterania, kita beralih ke daerah sisa-sisa kemaharajaan Persia. Seorang anak terlahir dari Bapak yang bekerja serabutan. Sang Bapak terus bekerja hingga dipanggil sang ilahi. Al Ghazali, anak tersebut, ditinggal dengan kakaknya dan harta yang hanya cukup hingga pendidikan dasar.

Al Ghazali sadar kalau ia tidak seperti anak-anak lainnya. Ia terus belajar hingga menjadi yang terpintar. Biaya pendidikan dasar pun ia habiskan dan sekolah tinggi melalui promosi guru-gurunya. Selain belajar kepada guru-gurunya, Al Ghazali juga mengajari mereka ilmu-ilmu yang dikuasainya.

Al Ghazali ditempa ditengah kondisi umat yang terpecah-belah. Ada Sunni, Syiah, Maturidiah, Murjiah, Khawarij di dalam Islam dan Filsafat Yunani Kuno, Filsafat Mesopotamia – Babilonia, hingga Filsafat Persia tempat kelahirannya. Al Ghazali lah orang Islam pertama yang memperbandingkan antara Islam dan ajaran-ajaran di luar Islam. Maka ia lah yang disebut hujjatul Islam.

Biaya sekolah dulu tidak semahal sekarang. Tetapi biaya pendidikan Al Ghazali memang disesuaikan dengan kemampuan almarhum orangtuanya. Al Ghazali bukan orang biasa. Ia tidak hanya belajar sebagaimana rutinitas belajar orang-orang sekarang. Ia sengaja belajar di kelas dimana terdapat suguhan makanan. Seperti tradisi di masjid-masjid besar di Indonesia yang menyediakan makanan ringan ketika diadakan khotbah, Al Ghazali memanfaatkannya.

Ikhtisar

Kemiskinan bukan hal baru. Sejak zaman para nabi kemiskinan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Kemiskinan tidak hanya bisa diatasi melalui bantuan pemerintah. Orang-orang miskin juga perlu sadar bahwa negara juga dibiayai rakyatnya. Jika rakyat miskin, begitu juga negaranya.

Imam Syafii dan Al Ghazali hanya dua dari sekian banyak tokoh yang hidup dalam kemiskinan. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan bukan menjadi penghalang seseorang untuk menjadi terkemuka. Nama mereka berdua tidak asing di Indonesia. 30 juta Muslim Indonesia menggunakan mazhab syafii, setara dengan jumlah orang-orang miskin. Jutaan Muslim Indonesia lainnya menggunakan buku hingga nama Al Ghazali sebagai identitasnya.

Mengapa kemiskinan masih menjadi momok bagi bangsa yang meneladani Imam Syafii dan Al Ghazali ?

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s